Kadang terasa bosan saat melewati
hari yang sepi setiap saat, mungkin masih belum dapat beradaptasi atas semua
kehilangan yang dialami saat ini. Ku rasa sudah cukup untuk berlelah hati,
sudah saatnya untuk membangun hati kembali, selayaknya dulu, tak pernah
mengenal salah satu dari kata-kata itu. Iya, Sang Merpati akan selalu hadir di
setiap jiwa seseorang lambing kesucian. Sang Merpati yang dulu selalu terbang
sesuka hatinya, kemanapun dia ingin menlanjutkan kehidupan yang rumit ini,
kesekian kalinya untuk merasakan suatu kekecewaan yang selalu menghantui
dirinya di sepanjang hidupnya.
Kali
ini Merpati akan terus melangkah dan terus melangkah tanpa kenal lelah untuk
selalu melangkahkan kaki di manapun, menebarkan sayap-sayapnya yang putih,
terbang menyusuri ruang dunia yang hampa ini. Penyemangat jiwa merpati hanya
hidupnya, begitupun merpati selalu bersyukur tentang kehidupan yang telah
diberikan kepadanya yang selalu menjadi sosok sangat berjasa bias terlahir di
dunia yang indah. Ruang kenangan yang dulu pernah singgahi, telah hilang sudah,
di pisahkan oleh kegundahan hati antara mereka. Harapan untuk bersatu mungkin
tak pernah menyatu, bahkan tak akan pernah ada masa itu kembali, hanya secercah
kenangan yang tersimpan satu sama lain.Tak ada satupun orang yang mengerti
tentang hal itu, hanya seekor Merpati yang terbuang sia-sia.
Tuntunan
doa yang membuat Sang Merpati selalu tersenyum dan bahagia dalam segala
perasaan yang dialaminya. Sekian lama penantian yang sia-sia Tak pernah terpikir sedikitpun di benaknya
tangisan yang dahulu sering di laluinya dengan penuh kesengsaraan, kesedihan,
keterpurukan dan kerinduan yang tak pernah tersentuh oleh perasaan sakit yang
mendalam.
Berpaling
Sang Merpati ke lain hati, tapi tak merubah hidupnya dalam melupakan bayang-bayang
senyum yang selalu mempengaruhi pikiran setiap waktu, yang menemani disetiap
hari-hari dia terbang tinggi setinggi harapan yang tak kunjung ia gapai. Sudah
lama penantian panjang selama ini, sayap mulai rapuh, hidup terbuang sia-sia,
tetapi tak sedikitpun niat tuk menyerah selama jiwa masih dikandung raga,
merpati akan tetap berjuang penuh tuk mencapao kebahagiaan itu dengan penuh
sukarela hatinya yang terketuk.
Sedalam-dalamnya
harapan itupun mulai memudar begitu saja. Hal yang mungkin tak terwujud dalam
kehidupan fana ini, dan mungkin hanya terlintas begitu saja dibenak pikiran
sang merpati yang sungguh malang. Kesungguhan yang luar biasa yang dialami sang
merpati dalam menikmati kehidupan yang menurutnya remang ini, tak ada satupun
orang yang mengerti dan sayang hanya dia yang merasakan kepedihan jiwa, bukan
orang lain. Sudah cukup untuk mengeluh, dan siaplah untuk menghadapi masa depan
selanjutnya. *R