Sabtu, 22 November 2014

SANG MERPATI



Kadang terasa bosan saat melewati hari yang sepi setiap saat, mungkin masih belum dapat beradaptasi atas semua kehilangan yang dialami saat ini. Ku rasa sudah cukup untuk berlelah hati, sudah saatnya untuk membangun hati kembali, selayaknya dulu, tak pernah mengenal salah satu dari kata-kata itu. Iya, Sang Merpati akan selalu hadir di setiap jiwa seseorang lambing kesucian. Sang Merpati yang dulu selalu terbang sesuka hatinya, kemanapun dia ingin menlanjutkan kehidupan yang rumit ini, kesekian kalinya untuk merasakan suatu kekecewaan yang selalu menghantui dirinya di sepanjang hidupnya.
            Kali ini Merpati akan terus melangkah dan terus melangkah tanpa kenal lelah untuk selalu melangkahkan kaki di manapun, menebarkan sayap-sayapnya yang putih, terbang menyusuri ruang dunia yang hampa ini. Penyemangat jiwa merpati hanya hidupnya, begitupun merpati selalu bersyukur tentang kehidupan yang telah diberikan kepadanya yang selalu menjadi sosok sangat berjasa bias terlahir di dunia yang indah. Ruang kenangan yang dulu pernah singgahi, telah hilang sudah, di pisahkan oleh kegundahan hati antara mereka. Harapan untuk bersatu mungkin tak pernah menyatu, bahkan tak akan pernah ada masa itu kembali, hanya secercah kenangan yang tersimpan satu sama lain.Tak ada satupun orang yang mengerti tentang hal itu, hanya seekor Merpati yang terbuang sia-sia.
            Tuntunan doa yang membuat Sang Merpati selalu tersenyum dan bahagia dalam segala perasaan yang dialaminya. Sekian lama penantian yang sia-sia  Tak pernah terpikir sedikitpun di benaknya tangisan yang dahulu sering di laluinya dengan penuh kesengsaraan, kesedihan, keterpurukan dan kerinduan yang tak pernah tersentuh oleh perasaan sakit yang mendalam.
            Berpaling Sang Merpati ke lain hati, tapi tak merubah hidupnya dalam melupakan bayang-bayang senyum yang selalu mempengaruhi pikiran setiap waktu, yang menemani disetiap hari-hari dia terbang tinggi setinggi harapan yang tak kunjung ia gapai. Sudah lama penantian panjang selama ini, sayap mulai rapuh, hidup terbuang sia-sia, tetapi tak sedikitpun niat tuk menyerah selama jiwa masih dikandung raga, merpati akan tetap berjuang penuh tuk mencapao kebahagiaan itu dengan penuh sukarela hatinya yang terketuk.
            Sedalam-dalamnya harapan itupun mulai memudar begitu saja. Hal yang mungkin tak terwujud dalam kehidupan fana ini, dan mungkin hanya terlintas begitu saja dibenak pikiran sang merpati yang sungguh malang. Kesungguhan yang luar biasa yang dialami sang merpati dalam menikmati kehidupan yang menurutnya remang ini, tak ada satupun orang yang mengerti dan sayang hanya dia yang merasakan kepedihan jiwa, bukan orang lain. Sudah cukup untuk mengeluh, dan siaplah untuk menghadapi masa depan selanjutnya. *R